Politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (Teori Klasik Aristoteles). Namun seiring berjalannya waktu, politik telah kehilangan esensinya sebagai wadah dan motor penggerak kemajuan rakyat. Salah satu contoh nyata hal tersebut dapat kila lihat dalam maraknya kaum ”entertainer” yang “mencoba merambah” dunia pemerintahan.
Kemenangan artis dalam pilkada sudah marak kita lihat. Sebut saja Rano Karno yang menjadi wakil bupati Tangerang dan Dede Yusuf menjadi wakil gubernur Jawa Barat. Realita tersebut rupanya membuat artis-artis lain ikut-ikutan ingin menjadi pemimpin. Sebagai contoh, Saiful Jamil yang akan menjadi calon walikota Serang mendampingi Ruhyadi Kirtam Sanjaya. Selain itu, muncul juga Ki Gendeng Pamungkas yang biasa dikenal sebagai dukun santet, akan maju dalam pemilihan wakil bupati Bogor.
Sebenarnya tidak ada yang salah terhadap hal tersebut. Di satu sisi, undang-undang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak untuk memilih dan dipilih. Namun, apa jadinya jika ada warga negara yang mencalonkan diri hanya untuk “mengadu nasib” di jajaran pemerintahan, tanpa memilliki kualifikasi dan integritas???
Mari kita mulai dengan Saiful Jamil. Mantan suami penyanyi dangdut Dewi Persik ini “memberanikan diri” untuk memimpin warga Serang. Namun ironisnya ia sendiri tidak dapat mempertahankan keutuhan rumahtangganya sendiri. Bagaimana ia dapat memimpin ribuan warga jika menjadi seorang kepala rumah-tangga saja tidak becus??? Yang kedua, mengenai Ki Gendeng Pamungkas. “Kemunculan” figure yang satu ini memang sangat aneh. Kita semua tahu bahwa “dunia” Ki Gendeng adalah dunia gaib yang berkutat dengan roh halus, dupa, kemenyan, dan mantra. Sekarang, ia mencoba “bermigrasi” dari “dunianya” untuk memasuki dunia politik. “Masa pawang hujan disuruh jadi pawang ular?” Tentu saja tidak nyambung! Apalagi, alasan Ki Gendeng mencalonkan diri sangat tidak masuk akal yaitu karena ia mendapat wangsit saat malakukan ritual di Kebun Raya Bogor.
“Dimanfaatkan”
Jika kita telisik lebih lanjut, penggandengan artis dalam pilkada merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi parpol. Mengapa? Pertama, artis terbebut pasti memiliki popularitas yang tinggi. Hal itulah yang menjadi daya tarik tersendiri agar masyarakat memilih calon tersebut. Di sisi lain, hal tersebut sangat ironis karena artis tersebut (mungkin) tidak sadar bahwa ia hanya dijadikan “alat” pengumpul dukungan.
Sadar atau tidak, biasanya para artis yang dicalonkan melalui partai politik hanya akan menjadi “wakil” atau pendamping dari calon yang diajukan parpol, mengapa? Sudah jelas karena parpol tidak perlu mengeluarkan banyak dana kampanye karena secara otomatis dengan menggandeng artis, dukungan akan mengalir. Alasan yang kedua adalah karena parpol sebenarnya tidak mempercayai artis tersebut untuk memimpin, alias, artis itu hanya sebagai ”pelengkap” kampanye. Setelah pasangan calon tersebut terpilih, maka parpol akan memberikan kursi “wakil” bupati, atau wakil gubernur kepada artis tersebut sebagai rasa terima kasih.
Penutup
Satu hal yang perlu dicamkan baik-baik adalah, dunia politik bukan “tempat pelarian” yang menjanjikan keuntungan instan. Indonesia sekarang memerlukan pemimpin yang memiliki kemampuan memimpin, berintergritas, accountable, dan memiliki dedikasi yang tinggi. Bukannya pemimpin yang gemar coba-coba, yang hanya bermodalkan tampang menarik, uang banyak, dan haus kekuasaan. Jika tidak memiliki pengetahuan dan pengertian mengenai bagaimana susahnya “hidup susah” dan tidak mengerti arti dari pengabdian, maka sebaiknya menjauhlah dari dunia politik!!!
Data-data diperoleh dari :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Politik
- http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/08/13/1/136301
- http://www.inilah.com/berita/2008/08/03/41716/artis-kembali-ramaikan-pilkada/




