Ketika mengikuti mata kuliah Contemporary Business in Asia Pacific, saya sangat terkejut dengan peryataan dosen yang seperti ini. “Salah satu perbedaan mengapa bisnis di Thailand lebih maju daripada Indonesia adalah karena Penduduk lokal Thailand dan warga keturunan China di sana bisa berbaur. Sedangkan di Indonesia, penduduk lokal “seperti kucing dan anjing” dengan warga keturunan tionghoa. Warga keturunan Tionghoa di kedua Negara tersebut memegan peranan penting dalam bisnis. Namun perbedaaanya, warga keturunan di Thailand menginvestasikan uangnya kembali di Negara itu. Sedangkan warga keturunan tionghoa di Indonesia malah membawa kabur uangnya ke Singapura, Malaysia, dsb”. Coba bayangkan, apakah kita tidak malu karena masalah seperti itu sudah sampai ke luar Indonesia.
Lebih lanjut lagi, kemarin saya iseng melihat-lihat forum di internet, dan sampailah saya pada salah satu forum terbesar di Indonesia, bernama Kaskus. Ketika melihat forum itu, saya benar-benar terkejut, karena masalah berbau SARA sedang “hot” diperdebatkan. Mulai dari penghinaan terhadap etnis tionghoa keturunan di Indonesia, sampai gambar salib Yesus yang “dimodifikasi” menjadi (maaf) vibrator.
Mungkin banyak di antara kita yang berpikir bahwa masalah SARA sudah dikesampingkan sebagai dampak dari arus globalisasi. Namun, manifestasi masalah SARA masih benar benar eksis, dan ironisnya, hal tersebut dilakukan oleh golongan masyarakat yang “well-educated”. Contohnya perdebatan di Forum Kaskus tadi, yang mayoritas penggunanya adalah kaum intelektual yang sudah “melek dunia maya”. Banyak diantara mereka yang sudah mahasiswa, bahkan pegawai kantor., yang seharusnya memiliki pemahaman yang luas terhadap permasalahan seperti ini.
Sebagai bahan pemikiran kita semua, saya ingin berbagi pengalaman menyangkut masalah SARA tadi. Saya mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri orang. Di universitas saya, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani pendidikan S1 maupun S2. Kita (mahasiswa Indonesia) di sini berasal dari suku, agama, dan idealisme yang berbeda-beda. Ada orang Jawa, keturunan tionghoa, Batak, Manado, dll. Walaupun berbeda dalam benyak hal, tetapi kami menyebut diri kami sebagai ORANG INDONESIA. Tidak ada lagi istilah “loe batak, loe jawa, gw cina,” dll. Ketika kita berada jauh dari tanah air, sifat etnosentrisme otomatis hilang. Lebih lanjut lagi, di universitas saya, 40-50% mahasiswa merupakan mahasiswa internasional. Ada mahasiswa dari India, Bangladesh, Myanmar, Bulgaria, Saudi Arabia, dll. Banyak juga teman saya yang mengaku tidak memiliki agama. Namun, tidak pernah keluar dari mulut kalimat seperti, “nigga!”, “atheist”, atau pun “Fuck China”. Lingkungan multikultural membuat toleransi terhadap perbedaan budaya sangat dijunjung tinggi.
Lebih lanjut lagi, mari kita sadar bahwa kita diciptakan berbeda. Buat apa saling menghina atas dasar perbedaan yang ada. Toh, persaingan dalam lapangan kerja internasional tidak ada kaitannya dengan apakah anda beragama atau tidak, jawa kah? China kah? Batak kah? Islam kah? Kristen kah? dll. Satu hal yang patut kita ingat, “kita tidak akan mendapat posisi yang baik dalam sebuah perusahaan multinasional hanya dengan bermodalkan tampang pribumi, tionghoa, agama Hindu, atau pun Kristen”. Saingan kita bukan hanya orang-orang dari Indonesia, tetapi orang-orang jenius dari Bangladesh, USA, Myanmar, Turki, dll, yang mungkin mereka tidak mengenal tuhan.
Source (No offense) :




